Komunitas Blogger Malang (Ngalam) Komunitasnya Arek-arek Blogger Malang (Ngalam) Raya

Haruskah Berkebaya?

04.21.2011 · Posted in Opini, Umum

“Dear All, dalam rangka memperingati hari Kartini, maka seluruh karyawati pada tanggal 21 April nanti wajib menggunakan busana nasional (kebaya). Akan ada penilaian karyawan dengan busana terbaik.”

*****

Demikian bunyi salah satu pengumuman di salah satu web intranet sebuah perusahaan beberapa tahun lalu. Seperti peringatan hari Kartini di tahun-tahun sebelumnya, perayaan hari Kartini tahun itu pun tak jauh dari kegiatan karyawan berbusana nasional, mungkin yang membedakan hanyalah tema peringatannya saja.

Maka tak pelak, hari itu hawa centil dan taburan wajah-wajah cantik memenuhi seluruh kantor. Yang biasanya hanya tampil kasual atau berbusana kantor mendadak terlihat lebih feminin dengan balutan busana kebaya dalam berbagai model dan gaya. Gelak tawa cekikikan dan ajang foto-foto hampir dipastikan ada di setiap kubikel. Ya, khusus di hari itu kantor sementara berubah menjadi studio foto dadakan.

“Lo, dandan mulai jam berapa?”
“Mulai subuh gue udah nyalon, Cyin..”
“Untung deh rambut gue cepak gini, jadi nggak seberapa ribet..”
“Ya, sekali-kali dandan rempong kaya begini gapapalah ya, toh nggak tiap hari ini. Eh, lo belum foto sama gueee..”

CEKREK! Dan mereka pun berfoto dalam berbagai pose.

“Bah, malas kali aku dandan beginian. Bikin ribet aja. Tadi pagi aja, baru mau pake bustier eh anakku udah kejer minta disuapinlah, digendong. Gimana dong aku mau mulai dandan? Untung kagak tiap hari mesti dandan begini…”

Peringatan Hari Kartini setiap 21 April, nyaris selalu diidentikkan dengan penggunaan kebaya. Itu lantaran banyak sekolah, instansi/kantor yang masih memperingatinya dengan berkebaya. Tentu saja banyak respon beragam mengenai hari Kartini dengan segala aktivitas “kekartiniannya” itu. Namun ternyata tidak semua perempuan yang diminta untuk menggunakan busana kebaya rela begitu saja big grin. Karena tak sedikit yang komplain karena menganggap kegiatan semacam ini kurang efektif dan kurang ada manfaatnya. Tapi bagi sebagian yang lain, kegiatan semacam ini merupakan hal yang fun, toh nggak setiap hari dilakukan jadi sekali-kali bolehlah, itung-itung rekreasi, biar nggak stress. Kapan lagi tampil lain daripada biasanya, kan? tongue

Entah bagaimana awalnya hingga tradisi menggunakan kebaya di setiap peringatan Hari Kartini ini dimulai. Apakah karena R.A. Kartini adalah perempuan keturunan bangsawan Jawa yang (pada jaman itu) memang identik dengan busana kebaya? Sehingga seolah-olah, kesan yang tertangkap Hari Kartini memang patut “dirayakan” dengan acara-acara yang berbau perempuan. Nah, pertanyaannya adalah : “Apa iya harus seperti itu? Apakah kegiatan semacam ini tidak sedikit melenceng dari pikiran-pikiran asli tokoh emansipasi perempuan itu? Apakah tidak terlalu dangkal untuk menerjemahkan arti emansipasi itu sendiri dengan cara menggunakan baju nasional, lomba kecantikan, lomba memasak, dan atau yang bersangkutan dengan domestic issue?”. Ah, namanya saja “merayakan”, “memperingati”, caranya boleh apa aja dong. Begitukah?

Yuk kita baca lagi penggalan surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902 berikut ini :

“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami  yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban  yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya : menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”.

Atau potongan surat R.A. Kartini kepada Ny. Abendanon, tertanggal 10 Juni 1902 berikut ini :

“Kami sekali-kali tidak hendak menjadikan murid-murid kami menjadi orang-orang setengah Eropa atau orang Jawa yang kebarat-baratan.”

Sama halnya seperti peringatan Hari Ibu yang salah kaprah, sepertinya selama ini pun kita juga sudah salah mengartikan perjuangan Kartini. Kesalahannya adalah dengan menjadikan Kartini sebagai icon bagi perjuangan kesetaraan gender antara perempuan dengan laki-laki, hanya lantaran dia adalah sosok seorang perempuan yang berani menentang adat turun temurun, dan ingin memodernisasi kaum perempuan. Nah, lalu salahnya dimana?

Selama ini kita sudah keblinger/salah menerjemahkan arti emansipasi. Emansipasi jaman sekarang diartikan sebagai era dimana perempuan ingin memasuki hampir semua bidang kehidupan yang sebelumnya hanya diperuntukkan untuk laki-laki. Kalau laki-laki bisa, kenapa perempuan tidak? Perempuan ingin terlihat “lebih” daripada laki-laki dalam segala hal, atau minimal samalah. Bahkan ada yang menafsirkan bahwa kalau ada perempuan yang “hanya” berprofesi sebagai ibu rumah tangga justru dianggap sebagai pengekangan terhadap kebebasan dan potensi sebagai perempuan. Duh, kok saya yang miris ya? straight face. Sekarang logikanya, kalau semua jadi wanita karir, semua ingin punya hak, pekerjaan yang sama dengan pria lalu yang murni jadi ibu rumah tangga siapa? Yang nanti akan mendidik dan mengasuh anak-anak di rumah siapa? Yang akan setia mendampingi peran suami dalam rumah tangga lalu siapa?

Coba deh kita baca ulang surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya diatas, sebenarnya yang diinginkan Kartini sejak awal itu bukan kesetaraan dimana perempuan mampu “mengalahkan” laki-laki atau ketika perempuan dengan bangga masuk dalam dunia laki-laki. Namun justru memperjuangkan bagaimana caranya supaya perempuan bisa mendapatkan pendidikan yang maksimal sehingga nantinya bisa mengoptimalkan perannya sebagai ibu dalam mengawal generasi (putra-putrinya).

Sebenarnya ada banyak cara yang lebih esensial untuk memperingati Hari Kartini tanpa harus melupakan kodratnya sebagai seorang ibu dan isteri. Ada banyak kegiatan yang jauh lebih emansipatif ketimbang sekedar ikut serta dalam lomba kecantikan atau tampil dalam balutan kebaya. Salah satu contoh emansipasi wanita adalah seperti yang pernah saya tulis beberapa waktu yang lalu disini . Itu baru salah satu contoh yang menurut saya adalah sosok Kartini jaman sekarang. Atau coba baca cerita ini , kisah sosok seorang Ibu yang berjuang untuk mendidik putra-putrinya supaya sukses.

Jadi siapa bilang kalau menjadi seorang ibu rumah tangga bukan tugas mulia dan kurang emansipatif? Emansipasi wanita itu tidak hanya melulu menuntut persamaan hak antara perempuan dan laki-laki saja, atau bahkan ekstrimnya adalah untuk “mengalahkan” laki-laki, bukan? Karena oleh Tuhan secara kodrati kita memang diciptakan berbeda dan itu bertujuan untuk menjalankan fungsi kodrati masing-masing.

Seperti potongan surat Kartini kepada Ny. Abendanon yang ditulis pada bulan Agustus 1900 :

“Kita dapat menjadi manusia sepenuhnya, tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya.”

Selamat Hari Kartini! happy

“Dear All, dalam rangka memperingati hari Kartini, maka seluruh karyawati pada tanggal 21 April nanti wajib menggunakan busana nasional (kebaya). Akan ada penilaian karyawan dengan busana terbaik.”

*****

Demikian bunyi salah satu pengumuman di salah satu web intranet sebuah perusahaan beberapa tahun lalu. Seperti peringatan hari Kartini di tahun-tahun sebelumnya, perayaan hari Kartini tahun itu pun tak jauh dari kegiatan karyawan berbusana nasional, mungkin yang membedakan hanyalah tema peringatannya saja.

Maka tak pelak, hari itu hawa centil dan taburan wajah-wajah cantik memenuhi seluruh kantor. Yang biasanya hanya tampil kasual atau berbusana kantor mendadak terlihat lebih feminin dengan balutan busana kebaya dalam berbagai model dan gaya. Gelak tawa cekikikan dan ajang foto-foto hampir dipastikan ada di setiap kubikel. Ya, khusus di hari itu kantor sementara berubah menjadi studio foto dadakan.

“Lo, dandan mulai jam berapa?”
“Mulai subuh gue udah nyalon, Cyin..”
“Untung deh rambut gue cepak gini, jadi nggak seberapa ribet..”
“Ya, sekali-kali dandan rempong kaya begini gapapalah ya, toh nggak tiap hari ini. Eh, lo belum foto sama gueee..”

CEKREK! Dan mereka pun berfoto dalam berbagai pose.

“Bah, malas kali aku dandan beginian. Bikin ribet aja. Tadi pagi aja, baru mau pake bustier eh anakku udah kejer minta disuapinlah, digendong. Gimana dong aku mau mulai dandan? Untung kagak tiap hari mesti dandan begini…”

Peringatan Hari Kartini setiap 21 April, nyaris selalu diidentikkan dengan penggunaan kebaya. Itu lantaran banyak sekolah, instansi/kantor yang masih memperingatinya dengan berkebaya. Tentu saja banyak respon beragam mengenai hari Kartini dengan segala aktivitas “kekartiniannya” itu. Namun ternyata tidak semua perempuan yang diminta untuk menggunakan busana kebaya rela begitu saja big grin. Karena tak sedikit yang komplain karena menganggap kegiatan semacam ini kurang efektif dan kurang ada manfaatnya. Tapi bagi sebagian yang lain, kegiatan semacam ini merupakan hal yang fun, toh nggak setiap hari dilakukan jadi sekali-kali bolehlah, itung-itung rekreasi, biar nggak stress. Kapan lagi tampil lain daripada biasanya, kan? tongue

Entah bagaimana awalnya hingga tradisi menggunakan kebaya di setiap peringatan Hari Kartini ini dimulai. Apakah karena R.A. Kartini adalah perempuan keturunan bangsawan Jawa yang (pada jaman itu) memang identik dengan busana kebaya? Sehingga seolah-olah, kesan yang tertangkap Hari Kartini memang patut “dirayakan” dengan acara-acara yang berbau perempuan. Nah, pertanyaannya adalah : “Apa iya harus seperti itu? Apakah kegiatan semacam ini tidak sedikit melenceng dari pikiran-pikiran asli tokoh emansipasi perempuan itu? Apakah tidak terlalu dangkal untuk menerjemahkan arti emansipasi itu sendiri dengan cara menggunakan baju nasional, lomba kecantikan, lomba memasak, dan atau yang bersangkutan dengan domestic issue?”. Ah, namanya saja “merayakan”, “memperingati”, caranya boleh apa aja dong. Begitukah?

Yuk kita baca lagi penggalan surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902 berikut ini :

“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami  yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban  yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya : menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”.

Atau potongan surat R.A. Kartini kepada Ny. Abendanon, tertanggal 10 Juni 1902 berikut ini :

“Kami sekali-kali tidak hendak menjadikan murid-murid kami menjadi orang-orang setengah Eropa atau orang Jawa yang kebarat-baratan.”

Sama halnya seperti peringatan Hari Ibu yang salah kaprah, sepertinya selama ini pun kita juga sudah salah mengartikan perjuangan Kartini. Kesalahannya adalah dengan menjadikan Kartini sebagai icon bagi perjuangan kesetaraan gender antara perempuan dengan laki-laki, hanya lantaran dia adalah sosok seorang perempuan yang berani menentang adat turun temurun, dan ingin memodernisasi kaum perempuan. Nah, lalu salahnya dimana?

Selama ini kita sudah keblinger/salah menerjemahkan arti emansipasi. Emansipasi jaman sekarang diartikan sebagai era dimana perempuan ingin memasuki hampir semua bidang kehidupan yang sebelumnya hanya diperuntukkan untuk laki-laki. Kalau laki-laki bisa, kenapa perempuan tidak? Perempuan ingin terlihat “lebih” daripada laki-laki dalam segala hal, atau minimal samalah. Bahkan ada yang menafsirkan bahwa kalau ada perempuan yang “hanya” berprofesi sebagai ibu rumah tangga justru dianggap sebagai pengekangan terhadap kebebasan dan potensi sebagai perempuan. Duh, kok saya yang miris ya? straight face. Sekarang logikanya, kalau semua jadi wanita karir, semua ingin punya hak, pekerjaan yang sama dengan pria lalu yang murni jadi ibu rumah tangga siapa? Yang nanti akan mendidik dan mengasuh anak-anak di rumah siapa? Yang akan setia mendampingi peran suami dalam rumah tangga lalu siapa?

Coba deh kita baca ulang surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya diatas, sebenarnya yang diinginkan Kartini sejak awal itu bukan kesetaraan dimana perempuan mampu “mengalahkan” laki-laki atau ketika perempuan dengan bangga masuk dalam dunia laki-laki. Namun justru memperjuangkan bagaimana caranya supaya perempuan bisa mendapatkan pendidikan yang maksimal sehingga nantinya bisa mengoptimalkan perannya sebagai ibu dalam mengawal generasi (putra-putrinya).

Sebenarnya ada banyak cara yang lebih esensial untuk memperingati Hari Kartini tanpa harus melupakan kodratnya sebagai seorang ibu dan isteri. Ada banyak kegiatan yang jauh lebih emansipatif ketimbang sekedar ikut serta dalam lomba kecantikan atau tampil dalam balutan kebaya. Salah satu contoh emansipasi wanita adalah seperti yang pernah saya tulis beberapa waktu yang lalu disini . Itu baru salah satu contoh yang menurut saya adalah sosok Kartini jaman sekarang. Atau coba baca cerita ini , kisah sosok seorang Ibu yang berjuang untuk mendidik putra-putrinya supaya sukses.

Jadi siapa bilang kalau menjadi seorang ibu rumah tangga bukan tugas mulia dan kurang emansipatif? Emansipasi wanita itu tidak hanya melulu menuntut persamaan hak antara perempuan dan laki-laki saja, atau bahkan ekstrimnya adalah untuk “mengalahkan” laki-laki, bukan? Karena oleh Tuhan secara kodrati kita memang diciptakan berbeda dan itu bertujuan untuk menjalankan fungsi kodrati masing-masing.

Seperti potongan surat Kartini kepada Ny. Abendanon yang ditulis pada bulan Agustus 1900 :

“Kita dapat menjadi manusia sepenuhnya, tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya.”

Selamat Hari Kartini! happy

Share

3 Responses to “Haruskah Berkebaya?”

  1. SALAM PERSAHATAN…….SALAM SATU JIWA…….

  2. nice post…

Switch to our mobile site