Jurnalisme Warga Menantang Media Tradisional

MALANG – Munculnya citizen journalism (jurnalisme warga negara) telah mengubah revolusi penyebaran pesan. Pesan yang dahulunya hanya bisa dilakukan oleh media massa (cetak dan elektronik), kini sudah bisa dilakukan oleh warga negara biasa, tanpa memandang status, pendidikan, jabatan, dan kemampuan menulis. Bahkan, informasi yang disebarkan oleh citizen journalist kadang lebih aktual dan alami.

Demikian pendapat yang muncul dalam acara launching dan bedah buku “Citizen Journalism Sebagai Katarsis Baru Masyarakat” karya Nurudin, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), belum lama ini.

Hadir sebagai pembicara selain penulisnya, Sam Ardi (Ketua Blogger Ngalam), dan Abdul Muntholib (redaktur Radar Malang). Acara ini diselenggarakan oleh Journalistic Club (JC) UMM dan dihadiri oleh blogger Malang dan mahasiswa se-Malang Raya.

Buku yang berasal dari naskah hasil penelitian Nurudin itu mendiskusikan bahwa citizen journalism tidak sekadar media menulis, tetapi telah tumbuh sebagai alat untuk menyalurkan katarsis.

“Blog yang dijadikan objek penelitian buku saya itu, menunjukkan bahwa para penulisnya melakukannya untuk mengungkapkan ketidakadilan, emosi, ketertekanan hidup dan hal lain yang perlu diungkapkan. Hasilnya, ya bisa berdampak luas bagi masyarakat. Lihat saja kasus korupsi. Ia tidak akan berdampak luas manakala tidak disebarkan lewat media, salah satunya blog,” tandas Nurudin yang sudah menulis belasan buku itu sebagaimana disampaikan kepadaokezone, Jumat (5/11/2010).

Ketika menjelaskan fenomena ngeblog, Sam Ardi menjelaskan bahwa kegiatan itu sudah menjadi keniscayaan sejarah. “Ngeblog saat ini bahkan sudah menjadi kebutuhan. Masyarakat bisa mengetahui kejadian terkini dari media sosial seperti facebook, twitter atau blog. Gempa bumi yang pernah melanda Jakarta beberapa waktu lalu justru diketahui dengan cepat masyarakat luas kan lewat media sosial? Paling tidak lewat status FB atau twitter,” ujarnya.

Ketua Blogger Ngalam itu lebih lanjut menjelaskan bahwa buku yang dihasilkan dari penelitian komunitas Blogger Ngalam ini menjadi bukti konkrit bahwa ngeblog juga banyak sisi positif. Ngeblog bukan kegiatan yang dilakukan oleh orang yang tidak punya pekerjaan. Ngeblog justru dilakukan oleh kalangan terdidik.

Sementara itu, Abdul Muntholib selalu praktisi jurnalis profesional menganggap bahwa citizen journalism memacu media cetak lebih kreatif. Kalau tidak ia akan mendapat tantangan yang hebat. “Memang beberapa waktu yang lalu pernah ada yang mengatakan media cetak akan mati jika internet muncul. Newspaper is dead, katanya. Tapi buktinya sekarang kan tidak? Justru itu kenyataan yang membuat para praktisi jurnalis profesional agar lebih kreatif. Lihat saja, banyak lembaga sekarang perlu memanfaatkan internet,” kata penulis buku “Arema Never Die” itu lebih lanjut.

Hanya saja, Muntholib menggarisbawahi bahwa citizen journalism mempunyai kelemahan dalam soal penulisan, jarang yang mengindahkan etika dalam menyebarkan pesan, dan sekadar melampiaskan uneg-uneg. Tapi lepas dari itu, citizen journalism menjadi hal yang penting untuk dilakukan. Paling tidak masyarakat mempunyai saluran dan mendapatkan informasi dari sumber pembanding.

Buku “Citizen Journalism Sebagai Katarsis Baru Masyarakat” mengungkap maraknya fenomena blog dan pandangan dari praktisi jurnalis profesional akan keberadaan citizen journalism yang kian mewabah. Bahkan buku itu mengungkap tak sedikit dari mainstream media (cetak dan elektonik) memunculkan rubrik atau tayangan “citizen journalism” versi mereka. Sebuah tantangan kritis, tidak saja bagi praktisi jurnalis profesional, tetapi juga para peneliti, akademisi yang selama ini mengamati perkembangan media massa. Buku ini juga mengkritisi teori uses and gratification yang selama ini hanya bicara tentang dampak media saja.(mbs)

Link: http://kampus.okezone.com/read/2010/11/05/373/390226/jurnalisme-warga-menantang-media-tradisional

Share

1 comment on this post.
  1. nothing:

    citisen jurnalisem iki jenenge dari rakyat oleh raykat untuk rakyat