Komunitas Blogger Kota Malang (Ngalam) Komunitasnya Arek-arek Blogger Kota Malang (Ngalam) Raya

Etika Bertanya

08.04.2010 · Posted in Opini, Umum

Cukup simpel judul postingan saya kali ini dan memang yang saya bahas juga simpel. Etika bertanya. Apa sih etika bertanya itu, kenapa bertanya juga harus ada etikanya? Ya memang, coba Anda bertanya kepada guru Anda dengan seenak udelnya sendiri, dijamin guru Anda bakal marah. Coba juga bertanya ke orang-orang yang lain dengan cara yang tidak beretika, tentunya mereka yang diajuin pertanyaan bakal marah, cuek dan tidak menghiraukan.

Sering saya jumpai di milis ataupun di blog, pertanyaan-pertanyaan mereka itu seperti menodong. Karena saking jengkelnya terkadang saya mendiamkannya bahkan sampai berbulan-bulan bahkan saya lupakan itu pertanyaannya. Tidak sedikit yang saya ignore lantaran memang tidak perlu dijawab. Apalagi kalau orang yang bertanya tidak ingin jawaban dari saya dan hanya ingin menge-test. Orang yang menge-test dan benar-benar bertanya itu berbeda. Baik dari komposisi pertanyaan ataupun dari sisi kebutuhan ia akan jawaban dari pertanyaan itu.

Contoh dari sebuah pertanyaan melalui email:

From: seseorang@yahoo.co

To: me@gmail.co

Subject: Bagaimana cara menginstall

Isi email:

ubuntu 9.10.

PC saya pentium 4?

selesai isi email.

Coba perhatikan. Beretika tidak orang yang bertama di atas? Sangat tidak beretika. Bahkan terkesan menodong dengan pistol shotgun yang di arahkan ke kepala orang yang diberi pertanyaan. Masih mending yang demikian. Sekarang masalah yang lainnya masalah agama misalnya. Pertanyaannya seperti, “Mas, kenapa mengikuti pendapat A? bukankah pendapat A ini pendapatnya ustadz fulan? Sedangkan ustadz fulan terkenal sesat.”

Etika yang saya angkat ini adalah sebuah etika yang dikenal secara universal, baik anda sadari atau tidak. Etika berbicara baik melalui lisan ataupun tulisan itu sama saja. Tidak ada bedanya bahkan setiap tulisan seseorang itu mewakili apa yang ia ucapkan. Maka dari itulah para ulama tidak pernah sama sekali menyingkat salam, ataupun sholawat kepada nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa salam dalam setiap tulisan mereka. Makanya itu dulu saya pernah membahas hal ini di blog.

Beberapa etika yang harus diperhatikan:

1. Memahami betul persoalan yang akan ditanyakan. Jangan sampai orang yang bertanya tidak faham terhadap apa yang ditanyakan. Memang benar terkadang kalau kita bertanya, jawaban belum dirasa tepat tapi paling tidak kita memahami apa yang kita tanyakan.

2. Tidak bertanya untuk memancing perdebatan. Contoh seperti ini biasa terjadi dalam sebuah diskusi atau ingin menjatuhkan orang lain di sebuah forum. Kalau dalam hal yang memang dibutuhkan perdebatan, maka hal ini sah-sah saja, tapi kalau bertanya untuk sebuah diskusi yang mana diskusi itu adalah untuk mencari sebuah solusi maka memancing sebuah perdebatan yang akan menjadi sebuah perang debat kusir bukanlah sebuah solusi yang baik.

3. Anda harus yakin yang Anda tanyakan dimengerti oleh orang lain. Contoh yang saya bawakan email di atas. Kira-kira dari 10 orang yang saya ambil secara acak berdasarkan profesi mereka, kira-kira apakah mereka mengerti terhadap apa yang anda tanyakan? Jawabannya tidak. Email apa itu? Subject tidak jelas, bahkan isinya seperti itu. Sama sekali tidak etis untuk sebuah pertanyaan. Dulu ketika masih awal-awalnya saya memakai email, saya pernah ditegur oleh seseorang ketika menulis email dengan cara seperti itu. Tidak etis katanya. Harusnya email itu jelas judulnya, dan isinya, jadi ketika ada pertanyaan datang maka orang bisa memahami dan mengerti dengan baik isi dari pertanyaan dan akan menyimpulkan sebuah jawaban.

4. Anda harus puas dengan jawaban tidak tahu apabila penjawab menjawab tidak tahu. Biasanya anak2 ABG atau newbie ngotot untuk bertanya suatu hal dan ingin tahu jawabannya, padahal tidak setiap geek itu punya jawaban dan itu sangat manusiawi. Tidak setiap guru itu faham atau tahu sesuatu, lalu buat apa menuhankan mereka seolah-olah mereka itu lebih tahu? Camkan ini!

5. Tidak melakukan nested question. Apa maksudnya? Nested question ini pertanyaan bercabang yang mengakibatkan tidak ada habisnya. Contohnya adalah pertama anda bertanya tentang processor, lalu pertanyaan berikutnya ke OS, lalu pertanyaan berikutnya ke software dengan cara memotong penjelasan dari pertanyaan-pertanyaan sebelumnya dan pertanyaan itu tidak dalam satu tema. Apabila anda bertanya, maka cukup bertanya 1 tema saja. Contohnya adalah apabila Anda ingin bertanya masalah OS, maka bertanyalah pada permasalahan OS, bukan permasalahan yang lain. Sangat tidak etis bahkan bisa membuang waktu dan tujuan dari apa yang Anda inginkan tidak akan tercapai.

6. Buang pertanyaan bodoh yang tidak perlu ditanyakan. Seperti apa pertanyaan bodoh itu? Contohnya adalah, Anda punya sebuah software yang mana software itu sudah ada buku panduan manualnya. Namun karena Anda merasa ingin segera dapat jawaban dari permasalahan, makanya anda bertanya kepada para geek. Sebagian besar para geek bakal mengatakan, “RTFM (Read The F*cking Manual)!!”. Ini adalah karena kemalasan Anda untuk mencari sebuah solusi yang sebenarnya hal itu sudah Anda miliki sendiri pemecahannya. Kalau di jaman Nabi Musa ‘alaihissalam itu seperti Bani Isra’il yang bertanya tentang sapi. Seandainya mereka tidak bertanya tentang sapi apa, jantan atau betina, warna apa, niscaya mereka tidak akan keberatan. Sebab perintahnya hanya menyembelih sapi.

7. Ucapkan terima kasih setelah mendapatkan jawaban yang diinginkan dan jangan malu untuk meminta mengulangi jawaban apabila memang belum mengerti atau meminta referensi apabila persoalan yang dialami masih belum menemukan hasilnya. Sebab dari saya bencinya orang-orang yang bertanya begitu saja tanpa berterima kasih setelah mendapatkan jawaban. Banyak saya temui hal seperti ini. Dengarlah berterima kasih itu juga penting, agar orang yang membantu Anda itu merasa dihargai, ya walaupun tidak dengan uang paling tidak dengan terima kasih. Itu lebih baik daripada sudah tahu jawaban hilang tak berbekas.

Well, demikian yang bisa saya nasehatkan kepada siapapun yang bertanya. Setiap mempertanyakan sesuatu itu ada etikanya dan tidak asal bertanya.

Author: Abu Aisyah

Seorang yang berjuang di negeri rantau (padahal cuman nyebrang gunung doank), yang sekarang belajar, berjuang, bekerja dan menegakkan kebenaran dan keadilan.

website: http://www.abuaisyah.org/

One Response to “Etika Bertanya”

  1. Wahh dari tulisannya yang ngambil cara install ubuntu kayaknya master Linux nih ? bisa tanya – tanya :)

Switch to our mobile site