Masyarakat yang Masih Kurang Sadar Terhadap Kebersihan

Kemarin melihat berita di Batu TV, setelah acara MTD di jalan Ijen ternyata setiap hari petugas kebersihan dan pertamanan Malang memunguti sampah sebanyak 25 gerobak. Dan pada hari terakhir kemarin sampai 50 gerobak penuh. Boleh dibilang acara MTD kemarin merupakan acara mengotori kota, selain pagar yang dibuat agar para pengunjung tidak merusak taman kota, ternyata rusak dan dijadikan jalan, diinjak-injak sampai-sampai penuh tumpukan sampah.

Saya sebagai seorang yang peduli kebersihan merasa apa ya, miris banget. Kota malang yang bersih, ternyata bisa kotor juga hanya dalam waktu satu malam. Dan bisa dilihat dari sini bahwa masyarakat malang kurang begitu perhatian terhadap kebersihan. Membuang sampah sembarangan dan sebagainya. Sebenarnya yang bekerja keras adalah petugas kebersihan. Saya bisa melihat bagaimana mereka setiap pagi jam 6 mondar-mandir masuk RW untuk mengangkuti sampah keluarga. Dan juga saya bisa melihat mereka jam 6 pagi sudah memenuhi pinggir-pinggir jalan menyapu, memunguti sampah. Bahkan yang ironis, disela-sela mereka sibuk bekerja membersihkan jalanan, ada sebuah mobil yang sengaja membuang sampah bungkus snack di jalan.

Saya juga sungkan banget mau buang sampah sembarangan. Bahkan kalau toh saya memang membawa sampah misalnya di dalam bus. Saya nggak akan buang di bus, tapi saya simpan dulu sampai saya menemukan tong sampah. Terlebih lagi setelah ngaji saya dapat sebuah hadits shohih yang berbunyi:

“Iman itu ada 60 sampai 70 tingkatan. Yang tertinggi adalah kalimah Laailaahaillallaah, dan menyingkirkan gangguan di jalan adalah tingkatan yang paling rendah. Dan malu adalah cabang dari Iman”.

Para ulama memahami gangguan tersebut seperti batu, atau hal-hal yang tidak enak ketika dilewati orang di jalan. Kalau manusia yang menyingkirkan gangguan di jalan saja dianggap imannya adalah tingkatan yang paling rendah, bagaimana kalau dia tidak melakukannya? Ayo Friends, kita galakkan gerakan “MEMBUANG SAMPAH PADA TEMPATNYA”