Komunitas Blogger Malang (Ngalam) Komunitasnya Arek-arek Blogger Malang (Ngalam) Raya

Demi RA Kartini

04.21.2008 · Posted in Budaya, Sejarah

Demi ingin berkontribusi untuk peringatan Hari Kartini ini, saya ingin mencoba melemaskan benang kusut kisah RA Kartini yang setiap tahun kita peringati dan seringkali dijadikan dalih dari berbagai ‘perjuangan kesetaraan gender’ atau ‘gerakan feminisme’ atau apapun istilahnya itu.

***

Sudah sejak kecil Ndoro Raden Ajeng Kartini mempunyai hasrat besar kepada ilmu pengetahuan. Hausnya akan ilmu membuatnya selalu berusaha mencari jawaban terhadap banyak hal yang ditemuinya, didengar, dilihat dan dirasakannya. Sementara lingkungan pada saat itu tidak terlalu mendukung bagi seorang wanita untuk mendapatkan segala jawaban dan informasi. Wanita pada saat itu masih dianggap tidak perlu untuk diberi akses ke berbagai hal secara mandiri karena mereka dianggap tidak terlalu bisa menggunakannya. Budaya maskuline yang demikian kuat pada saat itu serasa kurang pas di mata Kartini. Kartini mulai memperjuangkan ‘kesetaraan gender’ demi untuk mendapatkan kualitas perempuan yang lebih baik.

Namun kesetaraan gender atau gerakan feminisme yang banyak didengung-dengungkan sekarang ini acapkali bahkan melenceng jauh dari apa yang dilakukan RA Kartini. Istilah kerennya ‘jaka sembung kena tembak, gak nyambung mbak…’. Mereka hanya mengambil sedikit apa yang dikerjakan oleh RA Kartini pada saat itu, yaitu gegap gempitanya Kartini melawan kejumudan wanita dijamannya, lalu itu dijadikan kias dan argumentasi untuk melakukan banyak protes kepada situasi sekarang di Indonesia yang
dianggap masih kurang memenuhi standar kebebasan untuk perempuan, hal ini dilandaskan dengan perbandingan yang ada di negara-negara Barat yang berbudaya bebas. OMG,… RA Kartini pun mungkin akan menangis bila melihatnya.

Dalam satu suratnya kepada temannya di Eropa, “… kami menginginkan pendidikan untuk kaum wanita disini bukan untuk menjadi saingan dalam pekerjaan dengan kaum lelaki namun karena agar supaya kami menjadi lebih baik dan berfungsi karena kami sadari akan tugas wanita yang begitu penting sebagai pembentuk generasi. Karena ibu adalah sekolah pertama bagi seorang anak…”

Harusnya kita mengetahui bagaimana RA Kartini sampai di akhir hayatnya. RA Kartini hidup dalam konsistensi dan konsekuensi tinggi. Di kala dia berhasil mengetuk, membuka dan mendobrak pintu-pintu adat jumud waktu itu, dia melanjutkannya dengan menyambut keterbukaan informasi itu dengan mematuhi keilmuan dan informasi yang ia dapatkan.

Suatu saat ia begitu penasaran akan arti dari surat Alfatihah. Setelah sekian lama terbuntu akhirnya pada saat ia bepergian ke daerah Semarang ia mendengarkan pengajian seorang ulama bernana Kyai Soleh Darat yang sedang menerangkan makna dari surat Alfatihah. Ia lalu berusaha mendekati kyai itu dan melontarkan satu pertanyaan:

“Tuan, apa hukumnya orang yang berilmu tapi dia menyembunyikan ilmunya ?”
Tertegun sang kyai dengan pertanyaan ini. “Kenapa Raden Ajeng bertanya demikian ?”
Dijawab, “Kenapa sampai saat ini saya tidak menemukan terjemahan surat Alfatihah ini dalam bahasa Jawa?”

Sejak saat itu Kyai Soleh Darat mulai menterjemahkan Alquran ke dalam bahasa Jawa dan bahkan memberikan terjemahan surat Alfatihah sebagai hadiah dalam pernikahan RA Kartini.
Sejak saat itu pula RA Kartini mulai mempelajari Alquran dengan sesungguhnya. Meski belum sampai matang dalam menjadi muslimah yang sesungguhnya dan menemukan pencerahan dari banyak pertanyaan dalam benaknya tentang arti perjuangan wanita yang sebenarnya. Nampaknya masa-masa ini terjadi transformasi spiritual bagi Kartini. Pandangan Kartini tentang Barat-pun mulai berubah, setelah sekian lama sebelumnya dia terkagum dengan budaya Eropa yang menurutnya lebih maju dan serangkaian pertanyaan-pertanyaan besarnya terhadap tradisi dan agamanya sendiri.

Ini tercermin dalam salah satu suratnya;
“Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?” [Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902]

“Kami sekali-kali tidak hendak menjadikan murid-murid kami menjadi orang-orang setengah Eropa atau orang-orang Jawa Kebarat-baratan” (surat Kartini kepada Ny. Abandanon, 10 Juni 1902)

Di surat-surat lain :

“Astaghfirullah, alangkah jauhnya saya menyimpang” (Surat Kartini kepada Ny. Abandanon, 5 Maret 1902)

“Menyandarkan diri kepada manusia, samalah halnya dengan mengikatkan diri kepada manusia. Jalan kepada Allah hanyalah satu. Siapa sesungguhnya yang mengabdi kepada Allah, tidak terikat kepada seorang manusia punm ia sebenar-benarnya bebas” (Surat kepada Ny. Ovink, Oktober 1900)

Itulah totalitas perjuangan Kartini yang seringkali cuma diambil sebagaian oleh banyak penjuang feminisme sekarang. Kegigihan ingin tahu dan mematuhi setelah tahu, itulah totalitas.

Share

Author:

website: http://ame268.com

7 Responses to “Demi RA Kartini”

  1. bole pinjem buku-nya ga mas?
    ato judulnya apa ya, di perpus kota ada ga ya?

  2. weik ga yangka bisa jadi ahli sejarah. angguk2

  3. di perpus kota pasti ada.. itu buku paling terkenal. “Habis Gelap Terbitlah Terang”.. kalo gak ada berarti perpusnya patut di demo heheh…:D

  4. dahsyatt…
    kake guru , keep rock’in….. !!??!?!

  5. joni tolol says:

    gini boss ada satu surat kartini ma Ny. Abendanon “ingin rasanya aku mendapatkan gelar tertinggi dalam pencapaian umat manusia … hamba ALLAH” ..
    ” ingin rasanya aku bekerja keras agar umat agama lain melihat keindahan agama islam”
    menurut ane sih die tuh pejuang islam boss … gw yakin surat2nya tentang perjuangan dan pemikirannya tentang islam diapus tuh ma orang2 belanda

  6. that’s rite..

  7. selamat hari kartini kawan kawan
    semoga di tahun 2009 ini wanita indonesia kian terus berkarya

Switch to our mobile site